Catatan Kuratorial Bakaba Sinema oleh Anggy Rusidi
Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, bakaba adalah praktik bertutur yang tumbuh di tengah kehidupan sosial. Bukan sebagai hiburan semata, melainkan sebagai ruang kolektif tempat cerita, nilai, ingatan, dan pengalaman diwariskan lintas generasi. Seorang tukang kaba hadir di hadapan khalayak membawakan kisah-kisah panjang tentang kehidupan, adat, kepahlawanan, percintaan, hingga petuah moral. Namun yang menjadikan bakaba penting bukan hanya cerita yang dibawakan, melainkan situasi sosial yang tercipta di sekitarnya, di mana masyarakat berkumpul, mendengar, membayangkan, menafsirkan, lalu membawa pulang cerita itu ke dalam kehidupan masing-masing.
Yang sering luput dari perhatian adalah bahwa bakaba tidak pernah benar-benar netral. Seorang tukang kaba adalah pencerita sekaligus pemilih. Ia menentukan cerita mana yang layak disampaikan, bagian mana yang ditonjolkan, dan nada apa yang digunakan. Dalam banyak kasus, kaba menjadi ruang untuk menyampaikan kritik sosial yang tidak bisa diucapkan secara langsung sepeti protes terhadap kekuasaan yang diselundupkan ke dalam narasi atau ketidakadilan yang dikemas dalam metafora. Tradisi bertutur, dengan kata lain, adalah juga tradisi bertahan. Ia menjadi cara sebuah komunitas berbicara tentang dirinya sendiri tanpa harus berhadapan langsung dengan apa yang ingin dikritiknya.
Kebiasaan bercerita tidak hanya hidup dalam bentuk-bentuk besar yang kemudian dilembagakan sebagai tradisi. Ia juga hadir dalam rupa yang jauh lebih sederhana dan sehari-hari selayaknya gosip di perjalanan, percakapan di warung, cerita masa kecil yang muncul di sela arisan, atau diskusi kecil yang tampak remeh. Di titik ini, batas antara “tradisi lisan” dan “kebiasaan bercerita” menjadi samar, sehingga pertanyaannya menjadi tidak mudah dijawab, mengapa satu bentuk dianggap tradisi, sementara yang lain hanya dianggap obrolan biasa?
Jawabannya mungkin bukan soal isi cerita, bukan soal panggung, dan bukan pula soal siapa yang membawakan. Jawabannya adalah soal legitimasi tentang siapa yang memiliki kuasa untuk memutuskan bahwa sebuah cerita layak diwariskan, dan cerita mana yang cukup hanya hidup sebentar lalu dilupakan. Tradisi lisan, dalam banyak kasus, adalah kebiasaan bercerita yang berhasil bertahan cukup lama hingga seseorang memutuskan untuk menyebutnya tradisi. Sementara yang lain speti gosip, obrolan, dan kenangan personal, tetap hidup di pinggiran, tidak pernah cukup dianggap penting untuk diabadikan, meski ia justru yang paling dekat dengan cara manusia sesungguhnya berbicara tentang dunianya.
Bakaba Sinema mencoba membaca kembali tradisi bakaba bukan sebagai warisan budaya yang harus dijaga kesakralannya, melainkan sebagai bagian dari kebiasaan manusia yang paling mendasar yaitu bercerita. Dalam program ini, sinema mengambil peran yang pernah dimainkan oleh tukang kaba: membawa cerita-cerita dari berbagai penjuru ke hadapan khalayak, membiarkan mereka duduk bersama, mendengar, dan membawa pulang tafsir masing-masing.
Tapi perlu diakui bahwa sinema dan bakaba bekerja dengan cara yang tidak sepenuhnya sama. Bakaba hidup dari kehadiran, dari suara pencerita yang mengisi ruangan dan dari tatapan yang saling bertukar antara yang bercerita dengan yang mendengar. Sinema, sebaliknya, merekam dan membekukan. Penceritanya tidak hadir, ia telah meninggalkan jejaknya di dalam gambar dan suara yang bisa diputar berulang-ulang. Namun justru di celah inilah program ini menemukan alasannya. Ketika sebuah film diputar di ruang yang sama, di hadapan penonton yang duduk bersama dan kemudian berdiskusi setelahnya, sesuatu dari logika bakaba itu hidup kembali. Bukan dalam bentuk yang sama, tetapi dalam semangat yang serupa. Cerita yang tidak selesai di layar, melainkan berlanjut di kepala setiap orang yang menontonnya.
Seperti halnya tukang kaba, program ini tidak hadir untuk menawarkan kesimpulan tunggal atau kebenaran yang sudah jadi. Cerita-cerita yang dipertemukan di sini dilepaskan kepada penonton. Bebas ditafsirkan, diperdebatkan, atau bahkan ditolak sepenuhnya.
Dalam kuratorial ini, masing-masing film menghadirkan bentuk bertutur yang berbeda. Namun semuanya berbicara tentang hal yang sama yaitu bagaimana sebuah komunitas menjaga, mewariskan, dan kadang-kadang mempertaruhkan ceritanya.
Amaq Tebobong Lekong membuka kurasi ini dengan bentuk bertutur yang paling dekat dengan akarnya. Waran adalah tradisi tutur Lombok yang mewariskan dongeng, fabel, dan cerita pengantar tidur dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam bentuk aslinya, waran hidup dari suara, dari intonasi pencerita yang naik turun, dari jeda yang tepat, dari imajinasi pendengar yang mengisi sendiri gambaran di kepalanya. Ketika film ini memilih komik sebagai mediumnya, terjadi sebuah negosiasi yang tidak sederhana. Cerita yang tadinya hidup di ruang antara suara dan bayangan kini diberi tubuh visual yang konkret dan tetap. Bukan kehilangan semata, tapi juga bukan kelanjutan yang mulus. Di celah itulah film ini paling menarik. Ini menjadi bukti bahwa tradisi bertutur tidak pernah benar-benar diam di tempat. Ia selalu bergerak, selalu mencari medium baru, selalu bernegosiasi dengan zamannya agar tetap bisa didengar.
Hikayatussistance melanjutkan percakapan itu, tapi dengan nada yang lebih gelap dan lebih mendesak. Fuadi Klayu, seniman hikayat dari Aceh, membawakan kisah tentang sebuah negeri yang subur kini di ambang kehancuran. Bukan di atas pentas pertunjukan biasa, melainkan melalui pendekatan dokumenter hibrida yang memadukan narasi, tubuh, pencitraan, dan pertunjukan visual. Jika Amaq Tebobong Lekong memperlihatkan bagaimana tradisi bertutur mencari medium baru agar tetap hidup, Hikayatussistance memperlihatkan mengapa keberlangsungan itu menjadi taruhan: hikayat di sini bukan sekadar seni warisan, ia adalah strategi. Cara berbicara tentang sesuatu yang berbahaya dengan membalutnya dalam cerita, metafora, dan keindahan yang menyimpan ketajaman di dalamnya.
Tilik memperlihatkan tradisi lisan dalam wajahnya yang paling tidak terduga yaitu gosip. Di atas sebuah truk yang melaju menuju kota, ibu-ibu desa berdebat tentang Dian, seorang perempuan muda yang tidak ikut dalam rombongan, tapi justru menjadi pusat pembicaraan sepanjang perjalanan. Cerita tentang Dian bergerak, berubah, bercabang, dan terus hidup bukan karena ada yang tahu kebenarannya, melainkan justru karena tidak ada yang bisa memastikannya. Di sinilah gosip bekerja, ia tidak membutuhkan fakta untuk menjadi efektif. Ia hanya membutuhkan ketidakpastian yang cukup besar untuk membuat orang terus membicarakannya.
Dalam logika ini, Bu Tejo bukan sekadar karakter yang menggelikan atau menjengkelkan. Ia adalah pencerita yang sangat mahir. Seseorang yang memahami bahwa cerita yang paling kuat bukan yang paling benar, melainkan yang paling sulit dibantah. Dan seperti tukang kaba yang memilih cerita mana yang dibawakan, Bu Tejo juga memilih mana yang ditonjolkan, mana yang dirahasiakan, dan bagaimana nada yang tepat untuk membuat orang terus mendengarkan.
Yang menjadikan Tilik penting dalam konteks tema ini adalah justru statusnya yang selalu dipinggirkan. Gosip tidak pernah dianggap tradisi, tidak pernah dicatat sebagai warisan budaya, tidak pernah masuk ke dalam kurikulum atau arsip manapun. Tapi ia hidup lebih liat, lebih luas, dan lebih sulit dikendalikan dari hampir semua bentuk tutur yang dianggap resmi. Mungkin itulah justru kekuatannya. Karena tidak ada yang merasa perlu mengaturnya, ia bebas bergerak mengikuti caranya sendiri.
Rangsot Ita bergerak ke arah yang lebih intim. Di sebuah dusun di Lombok, para perempuan lanjut usia menghidupkan kembali permainan masa kecil mereka dan di dalam gerakan itulah cerita-cerita muncul. Bukan cerita yang dipanggil dengan sengaja, melainkan cerita yang tersimpan di dalam tubuh: di dalam cara tangan bergerak, di dalam irama langkah, di dalam tawa yang tiba-tiba muncul ketika sebuah permainan lama diingat kembali. Yang membuat film ini terasa mendesak adalah kesadarannya bahwa ingatan semacam ini tidak bisa diarsipkan, ia hanya bisa diwariskan dari tubuh ke tubuh. Ketika tubuh-tubuh itu tidak ada lagi, cerita itu ikut pergi bersamanya.
Percakapan Harimau menutup program ini dengan pertanyaan yang paling berat: siapa yang berhak menentukan apa yang sebuah cerita boleh katakan tentang sesuatu? Sekelompok orang berkumpul untuk berbicara tentang harimau dan yang segera terungkap adalah bahwa harimau yang mereka bicarakan bukan satu harimau yang sama. Bagi sebagian komunitas di Indonesia, harimau adalah sosok sakral, perwujudan roh yang memiliki kuasanya sendiri, sesuatu yang tidak bisa diperlakukan sembarangan. Tapi dalam arsip kolonial Belanda, harimau adalah hama, hambatan bagi pembukaan lahan perkebunan kopi, ancaman bagi proyek infrastruktur, dan masalah administratif yang harus diselesaikan dengan perburuan dan pemusnahan.
Kata “wabah harimau” yang muncul dari masa itu bukan sekadar istilah teknis. Ia adalah tindakan pendefinisian ulang yaitu mengambil sesuatu yang sakral dan mengubahnya menjadi ancaman yang perlu dibasmi. Dan di sinilah Percakapan Harimau paling tajam bicara. Bukan hanya tentang kepunahan seekor hewan, tapi tentang bagaimana sebuah sistem pengetahuan bisa dihancurkan bukan dengan melarangnya secara langsung, melainkan dengan mengubah cara orang memandang subjek yang menjadi pusatnya. Ketika harimau musnah, ikut pergi bersamanya adalah cara membaca hutan, cara bersikap terhadap alam, cara memahami batas antara dunia manusia dan dunia yang bukan milik manusia.
Yang membuat film ini terasa menghantui adalah cara ia menyusun cerita itu kembali. Dimulai dari pengalaman pribadi, lalu pengetahuan kultural yang masih hidup di ingatan, dan arsip foto yang ditemukan.
Di antara semua sumber itu, tidak ada satu versi tunggal tentang apa harimau itu sebenarnya. Dan mungkin justru itulah yang ingin dipertahankan oleh film ini. Bukan satu jawaban, melainkan percakapan yang terus terbuka, tentang sesuatu yang sudah lama tidak bisa lagi dilihat dengan mata kepala sendiri.
Kelima film ini tidak hadir dengan pesan moral yang sudah dikemas rapi, yang menawarkan jawaban yang bisa dibawa pulang begitu saja. Tapi justru sebaliknya. Pertanyaan yang terus terbuka, cerita yang tidak selesai di layar, tafsir yang berbeda-beda tergantung siapa yang duduk di senelah mana dan pengalaman apa yang ia bawa pulang.
Ini adalah cara kerja cerita yang paling jujur. Sebuah gosip bisa menjadi hiburan bagi satu orang dan penghinaan bagi yang lain. Sebuah dongeng bisa terasa seperti nostalgia yang manis, atau seperti cermin yang tidak nyaman untuk dipandang terlalu lama. Sebuah hikayat tentang negeri yang hancur bisa dibaca sebagai metafora, atau sebagai tuduhan yang sangat konkret. Tidak ada satu pun dari kemungkinan itu yang salah dan justru karena itulah cerita masih dibutuhkan.
Dengan caranya masing-masing, kelima film ini berbicara tentang momen ketika sebuah cerita sedang mencari ke mana ia harus pergi selanjutnya. Ketika tradisi berhadapan dengan dunia yang berubah. Ketika ingatan mulai kehilangan tubuh yang menanggungnya. Ketika suara-suara lama harus menemukan medium baru agar tetap bisa didengar. Kita semua sedang berada di dalam momen itu. Bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai bagian dari cerita yang sedang berlangsung.
Pada akhirnya, baik bakaba, hikayat, waran, gosip di atas truk, permainan masa kecil yang diingat kembali, maupun percakapan tentang harimau yang sudah lama tidak terlihat, semuanya adalah upaya yang sama, yaitu tentang manusia yang menolak membiarkan sesuatu hilang begitu saja tanpa terlebih dahulu diceritakan. Dan mungkin itulah alasan paling sederhana mengapa kita masih berkumpul, masih menonton, masih mendengarkan. Karena cerita tidak pernah benar-benar membutuhkan panggung besar untuk menjadi penting. Ia hanya membutuhkan seseorang untuk menyampaikan dan orang lain yang memilih untuk hadir mendengarkan.
Anggy Rusidi (Padang, 1995) seorang desainer grafis, penulis, dan salah satu pendiri Forum Studi Ladang Rupa di Bukittinggi, Sumatera Barat, yang aktif sejak 2015 hingga sekarang. pernah mengkuratori beberapa program screening movie. programmer Bioskop Taman, sebuah program pemutaran film reguler yang diinisiasi oleh Ladang Rupa. ia juga tergabung dalam Council of Ten, sebuah inisiatif dan platform yang fokus pada produksi serta distribusi film eksperimental.
Bakaba Sinema didukung oleh
Setiap hari
10.00 - 21.00 WIB