Catatan Kuratorial Bakaba Sinema oleh Jeri Oktaviandi
Ada satu hal yang selalu saya yakini: film tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan. Ia lahir dari hal-hal yang kita lihat, kita rasakan, dan kita alami meskipun sering kali kita tidak menyadarinya. Dalam konteks lokalitas, film menjadi medium yang paling jujur untuk merekam bagaimana manusia bernegosiasi dengan lingkungan, tradisi, dan perubahan zaman.
Program pemutaran ini saya susun bukan sekadar untuk menghadirkan tontonan, tetapi untuk membuka ruang pertemuan antara cerita dan penonton, khususnya di Nagari-Nagari di Kabupaten Agam. Saya percaya bahwa Nagari bukanlah ruang pinggiran dalam ekosistem sinema, melainkan titik paling relevan untuk menghidupkan kembali makna film sebagai pengalaman bersama.
Enam film yang dipilih dalam program ini menghadirkan spektrum yang luas tentang kehidupan masyarakat. Ada yang berbicara tentang hubungan manusia dengan tanah dan alam, seperti dalam Harmoni di Lembah Grime. Film ini mengingatkan kita bahwa tanah bukan hanya objek ekonomi, tetapi bagian dari identitas dan keberlangsungan hidup masyarakat adat. Di sisi lain, Pidokoa membawa kita pada praktik tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, memperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal hidup melalui tindakan, bukan sekadar wacana.
Namun, lokalitas tidak selalu hadir dalam bentuk tradisi yang besar atau eksotis. Ia juga hadir dalam hal-hal yang sangat dekat dan personal. Langit Tak Berujung misalnya, memperlihatkan dilema yang sering kita temui: ketika idealisme harus berhadapan dengan realitas hidup. Di dalamnya, ada pertanyaan yang sederhana namun berat, tentang pilihan, tanggung jawab, dan harga dari sebuah mimpi.
Hal yang serupa juga terasa dalam Setelah Kita Menangis. Film ini tidak hanya berbicara tentang kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana kita diajarkan untuk menyembunyikan perasaan. Ada jarak yang tercipta, bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena tidak ada ruang untuk mengekspresikannya. Di titik ini, film menjadi cermin yang memperlihatkan sisi lain dari relasi manusia yang sering kali luput kita sadari.
Sementara itu, Titip Sendal dan Pirates of Sepuluh Ribuan menghadirkan pendekatan yang berbeda. Keduanya menggunakan humor dan absurditas untuk membaca realitas sosial. Namun di balik kelucuan itu, ada kritik yang terasa dekat, tentang perilaku kolektif, tentang kepentingan pribadi, dan tentang bagaimana manusia sering kali terjebak dalam situasi yang ia ciptakan sendiri.
Sebagai kurator, saya tidak melihat film-film ini sebagai karya yang berdiri sendiri. Saya melihatnya sebagai fragmen-fragmen kecil yang jika disatukan, membentuk gambaran yang lebih besar tentang siapa kita hari ini. Tentang bagaimana kita hidup, bagaimana kita bertahan, dan bagaimana kita memaknai perubahan.
Yang juga penting bagi saya adalah bagaimana film-film ini dipertemukan dengan penontonnya. Pemutaran di Nagari bukan sekadar pilihan lokasi, tetapi pilihan sikap. Di tengah dominasi ruang-ruang digital dan urban, saya merasa penting untuk mengembalikan film ke ruang yang lebih intim,
di mana orang bisa menonton bersama, berdiskusi, dan merasakan film sebagai pengalaman kolektif.
Saya tidak berharap semua penonton akan memahami film-film ini dengan cara yang sama. Justru di situlah letak kekuatannya. Setiap orang akan membawa pengalaman dan perspektifnya sendiri, dan dari situlah percakapan akan lahir. Film menjadi titik awal, bukan titik akhir.
Bagi saya pribadi, proses kurasi ini juga merupakan proses belajar. Belajar untuk mendengar, untuk melihat dengan lebih jujur, dan untuk memahami bahwa tidak semua hal harus dijelaskan secara utuh. Ada hal-hal yang cukup dirasakan, cukup dibiarkan tumbuh dalam pikiran dan percakapan.
Pada akhirnya, program ini bukan tentang seberapa besar film yang ditampilkan, tetapi seberapa dekat ia bisa dirasakan. Karena saya percaya, dari yang dekat itulah kita bisa mulai memahami yang lebih luas.
Jeri Oktaviandi adalah produser film dan CEO Manoc Films yang berbasis di Pariaman, Sumatera Barat. Ia secara konsisten mengangkat isu-isu strategis terkait pelestarian dan pemajuan kebudayaan melalui medium film, dengan pendekatan yang berpijak pada konteks lokal dan relevansi global.
Selain berkarya di ranah produksi, ia juga mengemban peran sebagai Festival Director Anak Nagari Film Festival, di mana ia berfokus pada pengembangan ekosistem film daerah serta membuka ruang bagi lahirnya sineas-sineas baru.
Bakaba Sinema didukung oleh
Setiap hari
10.00 - 21.00 WIB