TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA
TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA TULISAN KAWAN KITA
Beranda / Blog / Kita Tak Akan Pernah Mencetak Hal yang Persis Sama Berulang Kali

Seandainya kita berulang kali menangkap visual yang sama, apa yang akan kita simpan untuk kemudian kita pertunjukkan? Dalam pelatihan cyanotype ini, peserta mencetak cahaya dengan visi dan ekspresi yang berbeda-beda. Citra yang timbul pada media cetak biru menyampaikan rangkaian konsep penuh ketelatenan dan makna. Akan tetapi, terjemahan pengunjung justru tak dapat diterka.

***

Cyanotype adalah kesederhanaan. Hanya dengan dua bahan dasar saja mampu menciptakan variasi percobaan. Selain dua bahan kimia tersebut, alat dan bahan-bahan lainnya tidak sulit dicari. Sinar matahari bisa selalu dinantikan, air pencucian juga bisa ditemukan, dan angin pengeringan bisa digantungkan. Hampir semuanya bertali dengan alam.

Alam dan segala penghuninya menjadi sorotan dibalik kesederhanaan cyanotype. Kompleksitas suara berbicara kepada karya-karya media cetak biru ini. Peserta mengeksplorasi isu sesuai minatnya masing-masing.

Dalam foto di atas, aku memotret salah satu peserta (Bang Jimmi) yang sedang menunggu penyinaran cyanotype-nya. Beliau telah mencoba untuk melukiskan larutan cyanotype di atas potongan media kardus. Berbeda dari lainnya yang menggunakan kertas anti air, hasil percobaan beliau menguji efek kebiruan larutan tersebut. Meski kertas jadi melunak, warna biru muda tetap timbul di tepiannya.

Oleh karena pelatihan ini membebaskan peserta bereksperimen, hal-hal unik pun bermunculan. Satu dua karya tidak cukup buat memuaskan pencarian akan keindahan. Satu dua hari pun belum bisa melengkapinya. Dengan pelatihan selama tiga hari dan selang-seling antara teori dan praktik, peserta bisa mencoba lebih banyak.

Kak CG, salah satu peserta, menceritakan proses uji coba yang beliau lakukan selama hadir tiga hari pelatihan: “Terkait praktik, menarik. Pertama, yang dry-cyanotype sudah pernah nyoba sebelumnya. Setelah itu, eksplorasi menggunakan cuka, kunyit, dan sabun cuci piring. Jadi apa sih yang terlihat? Oh ternyata ada gradasi, ada penurunan warna, dan ada tekstur gelembung-gelembungnya. Oleh karena bahan kimia yang peka cahaya, maka kita dapat siluet objeknya.”

Keberagaman hadir dari karya-karya peserta. Dengan tema pelatihan “Menangkap Ingatan dengan Cahaya”, penggalian ide dituai menjadi kenangan. Memori mencetak kesadaran untuk mengapresiasi peristiwa yang terlewatkan dalam keseharian. Cyanotype, yang hasilnya mesti dicetak oleh tangan sendiri, barangkali membuat kita terpantik untuk bersahabat dengan alam. Aku jadi berpikir: Andaikan kepala negara buat cyanotype, kira-kira bakal menuai ingatan yang mana ya?

***

Kesederhanaan proses cyanotype juga menjalin ikatan dari beragam latar belakang peserta. Ada yang sehari-hari berkecimpung dengan UMKM, hukum, instalasi seni, film, dan tentunya fotografi. Sebagaimana yang diungkapkan ketua Ladang Rupa (Bang Riyan), bahwasanya tujuan pelatihan ini tidak lain adalah membangun kolaborasi bersama teman-teman peserta.

Ketika banyak berseliweran karya-karya buatan mesin, manusia uniklah yang menghidupkan kembali kecintaan akan proses, kerja sama, dan kemanusiaan. Setiap karya manusia memiliki kekhasan individu sekaligus keindahan universal. Dengan mengikuti pelatihan selama tiga hari berturut-turut di Ladang Rupa, telah menambah pengetahuan suatu teknik dalam fotografi. Terlebih lagi, pengalaman bertukar cerita dengan teman-teman yang baik.

Cyanotype sebagai media cetak biru mewujudkan aura sebuah warna di antara hitam atau putih atau abu-abu kehidupan. Kalau kata Mas Ko, biru itu merupakan warna yang bikin nyaman dan tenang. Kalau dari Kak Nia mengutarakan, cyanotype adalah tentang bagaimana caranya kita konsisten tentang waktu, bahan, dan eksplorasi seliar-liarnya. Kalau dari Mas Steve bilang, karya cyanotype menyimpan banyak daya tarik. Demikianlah, kita tak akan pernah mencetak hal yang persis sama berulang kali, baik itu ingatan, cyanotype, dan lainnya.

“Tidak ada karya seni yang selesai, karena karya seni selalu berlanjut.”

CG (20/09/2026)

Penulis

Fadhillah Hayati. Menamatkan sarjana di Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Berdomisili di Bukittinggi, Sumatra Barat. 

kunjungan